{"http:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?p=1264":{"http:\/\/www.w3.org\/1999\/02\/22-rdf-syntax-ns#type":[{"type":"uri","value":"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#Post"},{"type":"uri","value":"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/types#BlogPost"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/title":[{"type":"literal","value":"Penyusunan Arahan Pengembangan Pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Guntur"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/terms\/identifier":[{"type":"literal","value":"1264","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/2001\/XMLSchema#integer"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/modified":[{"type":"literal","value":"2012-08-08","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/2001\/XMLSchema#date"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/created":[{"type":"literal","value":"2012-08-08","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/2001\/XMLSchema#date"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#link":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?p=1264"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#has_creator":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?author=2#account"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#has_container":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/#posts"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/abstract":[{"type":"literal","value":""}],"http:\/\/purl.org\/rss\/1.0\/modules\/content\/encoded":[{"type":"literal","value":"<![CDATA[Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Guntur memiliki posisi lokasi strategis jika dikaitkan dengan kebijakan \u201csegitiga emas\u201d pengembangan pariwisata Kabupaten Garut yang mencakup Wisata Candi Cangkuang, Situ Bagendit dan Gunung Papandayan. Lokasi TWA Gunung Guntur merupakan satu kesatuan lingkungan dengan Kawasan Wisata Cipanas, dan lokasinya berada di tengah-tengah wilayah sehingga dapat menangkap peluang pergerakan wisatawan ke Kabupaten Garut dari arah utara menuju selatan. Di sisi lain, TWA Gunung Guntur termasuk kawasan pelestarian alam dan rawan bencana alam sehingga pengembangannya membutuhkan arahan pemanfaatan yang sesuai dengan potensi wilayah dan kebijakan yang terkait. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyusun arahan pengembangan pariwisata di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Guntur, dengan sasaran teridentifikasinya potensi dan permasalahan kawasan serta tersusunnya konsep arahan pengembangan pariwisata di TWA Gunung Guntur. Arahan pengembangan pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Guntur dilakukan dengan konsep \u201cTaman Wisata Alam Gunung Guntur; Sebuah Pemandangan dan Kekhasan Flora Yang Responsif\u201d yang terintegrasi dengan Kawasan Cipanas dan Curug Citiis, dengan pembagian 2 (dua) zona pengembangan kegiatan pariwisata yaitu Zona Pengembangan Cipanas \u2013 Curug Citiis dan Zona Pengembangan Curug Citiis \u2013 Tanjung Kemuning. Konsep zoning yang diterapkan mempertimbangkan pembentuk ruang primer dan sekunder. Pembentuk ruang primer memiliki peruntukkan utama yaitu taman wisata alam yang dibagi menjadi 3 (tiga) zona utama yaitu Zona Pengantar\/penerima, Zona Pelayanan, serta Zona RTH. Masing-masing zona pengembangan memiliki kondisi yang cukup jauh berbeda sehingga pengembangan elemen dan prasarana serta utilitasnya perlu penanganan yang berbeda pula.\r\n\r\nDibuat oleh :\u00a0Enni Lindia Mayona\u00a0(emayona@yahoo.com).\r\nKata Kunci:\u00a0Pengembangan Pariwisata, Taman Wisata Alam Gunung Guntur\u00a0.\r\nKeterangan : \u00a0Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW) Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752.\r\n\r\n<a href=\"http:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/Penyusunan-Arahan-Pengembangan-Pariwisata.pdf\">Penyusunan Arahan Pengembangan Pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Guntur<\/a>\r\n\r\n&nbsp;]]>","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/1999\/02\/22-rdf-syntax-ns#XMLLiteral"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#content":[{"type":"literal","value":"Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Guntur memiliki posisi lokasi strategis jika dikaitkan dengan kebijakan \u201csegitiga emas\u201d pengembangan pariwisata Kabupaten Garut yang mencakup Wisata Candi Cangkuang, Situ Bagendit dan Gunung Papandayan. Lokasi TWA Gunung Guntur merupakan satu kesatuan lingkungan dengan Kawasan Wisata Cipanas, dan lokasinya berada di tengah-tengah wilayah sehingga dapat menangkap peluang pergerakan wisatawan ke Kabupaten Garut dari arah utara menuju selatan. Di sisi lain, TWA Gunung Guntur termasuk kawasan pelestarian alam dan rawan bencana alam sehingga pengembangannya membutuhkan arahan pemanfaatan yang sesuai dengan potensi wilayah dan kebijakan yang terkait. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyusun arahan pengembangan pariwisata di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Guntur, dengan sasaran teridentifikasinya potensi dan permasalahan kawasan serta tersusunnya konsep arahan pengembangan pariwisata di TWA Gunung Guntur. Arahan pengembangan pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Guntur dilakukan dengan konsep \u201cTaman Wisata Alam Gunung Guntur; Sebuah Pemandangan dan Kekhasan Flora Yang Responsif\u201d yang terintegrasi dengan Kawasan Cipanas dan Curug Citiis, dengan pembagian 2 (dua) zona pengembangan kegiatan pariwisata yaitu Zona Pengembangan Cipanas \u2013 Curug Citiis dan Zona Pengembangan Curug Citiis \u2013 Tanjung Kemuning. Konsep zoning yang diterapkan mempertimbangkan pembentuk ruang primer dan sekunder. Pembentuk ruang primer memiliki peruntukkan utama yaitu taman wisata alam yang dibagi menjadi 3 (tiga) zona utama yaitu Zona Pengantar\/penerima, Zona Pelayanan, serta Zona RTH. Masing-masing zona pengembangan memiliki kondisi yang cukup jauh berbeda sehingga pengembangan elemen dan prasarana serta utilitasnya perlu penanganan yang berbeda pula.\r\n\r\nDibuat oleh :\u00a0Enni Lindia Mayona\u00a0(emayona@yahoo.com).\r\nKata Kunci:\u00a0Pengembangan Pariwisata, Taman Wisata Alam Gunung Guntur\u00a0.\r\nKeterangan : \u00a0Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW) Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752.\r\n\r\nPenyusunan Arahan Pengembangan Pariwisata di Taman Wisata Alam Gunung Guntur\r\n\r\n&nbsp;"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#topic":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=1"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=177"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=development-of-border"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=pengembangan-perbatasan"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=prioritas"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=priority"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=strategi"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=strategy"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#attachment":[{"type":"uri","value":"http:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/Penyusunan-Arahan-Pengembangan-Pariwisata.pdf"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?author=2#account":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?author=2&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=1":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=1&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=177":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=177&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=development-of-border":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=development-of-border&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=pengembangan-perbatasan":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=pengembangan-perbatasan&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=prioritas":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=prioritas&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=priority":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=priority&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=strategi":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=strategi&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=strategy":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=strategy&feed=lhrdf&format=json"}]},"http:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/Penyusunan-Arahan-Pengembangan-Pariwisata.pdf":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?attachment_id=1273&feed=lhrdf&format=json"}]}}