{"http:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?p=5434":{"http:\/\/www.w3.org\/1999\/02\/22-rdf-syntax-ns#type":[{"type":"uri","value":"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#Post"},{"type":"uri","value":"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/types#BlogPost"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/title":[{"type":"literal","value":"Kajian Emisi Partikulat Dan Gas Dari Suatu Pertambangan Nikel Di Halmahera Tengah"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/terms\/identifier":[{"type":"literal","value":"5434","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/2001\/XMLSchema#integer"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/modified":[{"type":"literal","value":"2018-02-28","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/2001\/XMLSchema#date"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/created":[{"type":"literal","value":"2018-02-28","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/2001\/XMLSchema#date"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#link":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?p=5434"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#has_creator":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?author=6#account"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#has_container":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/#posts"}],"http:\/\/purl.org\/dc\/elements\/1.1\/abstract":[{"type":"literal","value":""}],"http:\/\/purl.org\/rss\/1.0\/modules\/content\/encoded":[{"type":"literal","value":"<![CDATA[Nikel merupakan jenis logam yang sangat penting untuk infrastruktur modern, sehingga pencarian deposit nikel terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nikel di dunia. Indonesia merupakan negara dengan deposit nikel yang sangat besar, yaitu 16.200 kt nikel. Salah satu lokasi di Indonesia yang memiliki kandungan nikel adalah Halmahera Tengah. Bijih lateric yang mengandung nikel diangkat dari dalam bumi untuk diolah dan dihasilkan bijih nikel. Keberadaan pertambangan nikel memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya adalah penurunan kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi pencemar udara. Berbagai jenis pencemar diemisikan dari kegiatan pertambangan, diantaranya adalah partikulat, NOx, SO2, SO3+H2SO4, debu nikel, dan H2S. Tingkat konstribusi pertambangan nikel terhadap pencemaran udara dapat dilihat dengan menghitung laju emisi dari kegiatan operasional pertambangan. Laju emisi dari pertambangan nikel dapat diperoleh melalui invetarisasi emisi. Kegiatan dan proses di pertambangan nikel yang berpotensi menjadi sumber emisi diidentifikasi terlebih dahulu dalam tahap pertama inventarisasi emisi.\u00a0 Selanjutnya, perhitungan emisi dilakukan berdasarkan ketersediaan data yang diperoleh. Faktor emisi yang dipilih dalam perhitungan emisi mempertimbangkan ketersediaan data. Emisi dihitung dengan mengalikan faktor emisi dengan data\r\naktifitas. Berdasarkan hasil inventarisasi emisi, diketahui bahwa pencemar yang paling banyak dihasilkan oleh pertambangan nikel adalah partikulat dengan jumlah 35.173,96 ton. Sumber utama partikulat adalah pertambangan bijih dengan kontribusi sebesar 83%. Sementara itu, gas pencemar yang paling banyak diemisikan dari pertambangan nikel adalah SO2 dengan jumlah 8.392,61 ton. Sumber utama gas SO2 adalah pabrik asam dengan kontribusi sebesar 72%.\r\n\r\n<strong>Dibuat Oleh : Agung Ghani Kramawijaya\r\n<\/strong>\r\n\r\n<strong>Alamat e-mail:\u00a0<\/strong>agung.ghani@itenas.ac.id\r\n\r\n<strong>Kata Kunci :\u00a0<\/strong>inventarisasi emisi, pertambangan nikel, emisi gas, emisi partikulat\r\n\r\n<strong>Keterangan :<\/strong> Karya Tulis Ilmiah ini dimuat pada Jurnal Rekayasa Hijau No.2 Vol. I,\u00a0 ISSN 2550-1070 Juli 2017\r\n\r\n&nbsp;\r\n\r\n<a href=\"https:\/\/jurnalonline.itenas.ac.id\/index.php\/rekayasahijau\/article\/view\/1637\">Kajian Emisi Partikulat Dan Gas Dari Suatu Pertambangan Nikel Di Halmahera Tengah<\/a>\r\n\r\n&nbsp;]]>","datatype":"http:\/\/www.w3.org\/1999\/02\/22-rdf-syntax-ns#XMLLiteral"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#content":[{"type":"literal","value":"Nikel merupakan jenis logam yang sangat penting untuk infrastruktur modern, sehingga pencarian deposit nikel terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nikel di dunia. Indonesia merupakan negara dengan deposit nikel yang sangat besar, yaitu 16.200 kt nikel. Salah satu lokasi di Indonesia yang memiliki kandungan nikel adalah Halmahera Tengah. Bijih lateric yang mengandung nikel diangkat dari dalam bumi untuk diolah dan dihasilkan bijih nikel. Keberadaan pertambangan nikel memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya adalah penurunan kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi pencemar udara. Berbagai jenis pencemar diemisikan dari kegiatan pertambangan, diantaranya adalah partikulat, NOx, SO2, SO3+H2SO4, debu nikel, dan H2S. Tingkat konstribusi pertambangan nikel terhadap pencemaran udara dapat dilihat dengan menghitung laju emisi dari kegiatan operasional pertambangan. Laju emisi dari pertambangan nikel dapat diperoleh melalui invetarisasi emisi. Kegiatan dan proses di pertambangan nikel yang berpotensi menjadi sumber emisi diidentifikasi terlebih dahulu dalam tahap pertama inventarisasi emisi.\u00a0 Selanjutnya, perhitungan emisi dilakukan berdasarkan ketersediaan data yang diperoleh. Faktor emisi yang dipilih dalam perhitungan emisi mempertimbangkan ketersediaan data. Emisi dihitung dengan mengalikan faktor emisi dengan data\r\naktifitas. Berdasarkan hasil inventarisasi emisi, diketahui bahwa pencemar yang paling banyak dihasilkan oleh pertambangan nikel adalah partikulat dengan jumlah 35.173,96 ton. Sumber utama partikulat adalah pertambangan bijih dengan kontribusi sebesar 83%. Sementara itu, gas pencemar yang paling banyak diemisikan dari pertambangan nikel adalah SO2 dengan jumlah 8.392,61 ton. Sumber utama gas SO2 adalah pabrik asam dengan kontribusi sebesar 72%.\r\n\r\nDibuat Oleh : Agung Ghani Kramawijaya\r\n\r\n\r\nAlamat e-mail:\u00a0agung.ghani@itenas.ac.id\r\n\r\nKata Kunci :\u00a0inventarisasi emisi, pertambangan nikel, emisi gas, emisi partikulat\r\n\r\nKeterangan : Karya Tulis Ilmiah ini dimuat pada Jurnal Rekayasa Hijau No.2 Vol. I,\u00a0 ISSN 2550-1070 Juli 2017\r\n\r\n&nbsp;\r\n\r\nKajian Emisi Partikulat Dan Gas Dari Suatu Pertambangan Nikel Di Halmahera Tengah\r\n\r\n&nbsp;"}],"http:\/\/rdfs.org\/sioc\/ns#topic":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=118"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=177"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=emisi-gas"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=emisi-partikulat"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=inventarisasi-emisi"},{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=pertambangan-nikel"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?author=6#account":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?author=6&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=118":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=118&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=177":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?cat=177&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=emisi-gas":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=emisi-gas&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=emisi-partikulat":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=emisi-partikulat&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=inventarisasi-emisi":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=inventarisasi-emisi&feed=lhrdf&format=json"}]},"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=pertambangan-nikel":{"http:\/\/www.w3.org\/2000\/01\/rdf-schema#seeAlso":[{"type":"uri","value":"https:\/\/lib.itenas.ac.id\/kti\/?tag=pertambangan-nikel&feed=lhrdf&format=json"}]}}