Page 3 - JABAR_20250610
P. 3
TRIBUNHEALTH
3 SELASA, 10 JUNI 2025
Kualitas Hidup dan Ancaman Dimensia
AYA hidup sebagai
night owl atau orang Tidur Cukup untuk Kurangi Ancaman Stroke
yang cenderung aktif di
G malam hari mungkin
berdampak lebih dari sekadar KURANG tidur merupakan faktor ri- tine Eileen Mc Carthy, MSc dkk dan Santi kepada Kompas.com pada Ka-
kantuk di pagi hari. Studi terba- siko stroke yang mungkin tidak ba- dipublikasikan di Neurology (2023) mis (5/6).
Berdasarkan usia, menurut San-
ru dari University of Groningen, nyak diperhatikan. Aktor dan presen- menganalisis data 1.799 orang yang ti, jumlah waktu tidur per hari yang di-
pernah mengalami stroke iskemik
ter Harry Pantja adalah salah satu
Belanda, menunjukkan bahwa contoh orang dengan stroke, yang dan mencatat durasi tidur mereka. sarankan para pakar terdiri atas bayi
kebiasaan begadang, khususnya mengaku kebiasaan kurang tidur di Hasilnya menunjukkan bahwa mere- 0-3 bulan: 14-17 jam, bayi 4-11 bulan:
pada individu dengan pendi- masa lalu menjadi pemicu penyakit ka yang tidur kurang dari 5 jam per 12-15 jam, bayi 1-2 tahun: 11-14 jam,
dikan tinggi, berpotensi terkait kronisnya saat ini. malam memiliki risiko stroke 3 kali anak 3-5 tahun: 10-13 jam, anak 6-13
dengan penurunan fungsi kog- Mengutip berita Kompas.com, Ka- lebih besar dibandingkan yang tidur tahun: 9-11 jam, remaja 14-17 tahun:
nitif seiring waktu. Penelitian ini mis (5/6), Harry Pantja mengalami selama 7 jam. Risiko stroke mening- 8-10 jam, dewasa 18-25 tahun: 7-9
menganalisis data dari 23.798 tiga kali serangan stroke yang dimu- kat 2 kali lipat bagi mereka yang ti- jam, dewasa 26-64 tahun 7-9 jam,
orang berusia 40 tahun ke atas lai pada 2016. Stroke berulang terja- dur lebih dari 9 jam per malam di- lansia lebih dari 65 tahun 7-8 jam.
yang tergabung dalam basis data di pada 2017 dan 2020, yang mana bandingkan dengan mereka yang “Walaupun dibutuhkan lebih ba-
kesehatan publik. dampaknya semakin parah pada fung- tidur selama 7 jam. nyak penelitian mengenai hal ini,
Para peneliti mencocokkan si tubuhnya. Akibatnya, ia harus meng- Apakah tujuh jam adalah durasi ada penelitian yang mengatakan
kebiasaan tidur para partisipan gunakan kursi roda untuk beraktivitas. yang dibutuhkan setiap orang untuk bahwa perempuan butuh tidur seki-
tar 10-20 menit lebih banyak daripa-
Jika merunut ke belakang, menurut
tidur cukup dan mengurangi risiko
dengan hasil tes ruff figural flu- Harry, kebiasaan kurang tidur menja- stroke. Health Management Specia- da pria,” kata Santi.
ency test (RFFT) yang digunakan di pemicu stroke yang dideritanya hari list Corporate HR Kompas Gramedia Hal itu, ujar Santi, karena kecen-
untuk mengukur kemampuan ini. Faktanya, sebuah studi 2023 telah Dr Santi mengatakan pada umum- derungan perempuan memiliki pe-
kognitif selama kurun waktu menunjukkan hasil, yang mendukung nya orang dewasa membutuhkan kerjaan rangkap dalam kehidupan,
10 tahun. Hasilnya, individu pernyataan Harry Pantja, bahwa ku- 7-9 jam untuk tidur. yaitu ibu rumah tangga saat di ru-
yang memiliki kebiasaan tidur rang tidur berdampak nyata untuk me- “Tetapi, sebenarnya itu bukan- mah dan karyawan saat di kantor.
larut malam dan memiliki latar ningkatkan risiko stroke. lah angka yang tepat untuk semua “Perempuan yang berkarier diharap-
belakang pendidikan universitas Berikut artikel ini akan mengulas orang. Sebagian orang butuh ku- kan juga sekaligus mengambil be-
mengalami penurunan kognitif lebih lanjut tentang lamanya waktu rang dari 7 jam dan sebagian lagi ban mengurus rumah tangga. Aki-
yang lebih signifikan dibanding- tidur yang dibutuhkan setiap orang butuh waktu lebih dari 9 jam. Kebu- batnya, kurang tidur kerap dijumpai
kan kelompok lainnya. KOMPAS.COM serta hubungan tidur dengan stroke. tuhan ini dipengaruhi oleh genetik, pada kaum perempuan,” ujarnya.
“Pada kelompok dengan pendi- Studi yang dilakukan oleh Chris- umur, kesehatan, dan lainnya,” ujar (kompas.com)
dikan tinggi, setiap peningkatan
satu jam dalam kronotipe tidur tinggi. Dalam kelompok dengan kognitif. Ada banyak faktor
malam hari berkorelasi dengan tingkat pendidikan rendah dan kompleks yang mungkin ikut
penurunan skor kognitif sebesar menengah, tidak ditemukan efek berperan dan belum sepenuhnya
0,80 poin per dekade,” tulis tim serupa yang berarti. terungkap.
peneliti dalam Journal of Pre- Para peneliti menduga bahwa Seiring bertambahnya usia ha-
vention of Alzheimer’s Disease, individu dengan pendidikan rapan hidup di berbagai negara,
seperti dikutip dari ScienceAlert, tinggi cenderung memiliki peker- menjaga kesehatan kognitif men-
Rabu (4/6). jaan dengan jadwal kerja tetap, jadi perhatian utama. Organisasi
Penelitian ini juga menyoroti sehingga mereka tetap harus kesehatan memperkirakan bah-
peran faktor lain seperti kualitas bangun pagi meskipun terbiasa wa jumlah penderita demensia di
tidur dan kebiasaan merokok. begadang. Ketidaksesuaian ritme seluruh dunia saat ini mencapai
Kedua hal ini memang dike- ini dapat mengganggu proses sekitar 57 juta orang, dan angka
tahui berkaitan dengan risiko pemulihan otak dan berkontri- ini diprediksi akan lebih dari dua
demensia, namun kontribusinya busi terhadap penurunan fungsi kali lipat pada 2050.
terhadap penurunan fungsi otak kognitif. “Dengan meningkatnya usia
dalam studi ini relatif kecil, yak- Selain itu, orang dengan pen- harapan hidup dan populasi
ni 13,52 persen untuk kualitas didikan tinggi umumnya memi- yang menua di seluruh dunia,
tidur dan 18,64 persen untuk liki kapasitas kognitif awal yang menjaga kesehatan kognitif
kebiasaan merokok. lebih tinggi. Penurunan kemam- menjadi prioritas global yang
Sedangkan aktivitas fisik, puan ini mungkin akan tampak mendesak,” tulis para peneliti.
riwayat merokok di masa lalu, lebih nyata dibandingkan pada Penelitian ini menjadi pengi-
serta konsumsi alkohol tidak individu dengan kapasitas awal ngat penting bahwa kebiasaan
menunjukkan pengaruh yang yang lebih rendah. Namun, para tidur, apalagi jika dipertahankan
signifikan dalam hubungan peneliti mengingatkan bahwa bertahun-tahun, dapat berdam-
antara pola tidur dan penurunan studi ini belum bisa membuk- pak besar terhadap kesehatan
kognitif. Menariknya, hubung- tikan hubungan sebab-akibat otak, terutama bagi mereka yang
an ini hanya ditemukan pada secara langsung antara kebiasa- terbiasa berpikir keras sepanjang
kelompok dengan pendidikan an tidur malam dan penurunan hari.(kompas.com)

