// you're reading...

3 FSRD

Konsep Estetika dalam Budaya Rupa Sunda Sebuah Kajian Awal

ABSTRAK

Sebuah kajian awal dan mendasar mengenai konsep estetika dalam budaya rupa Sunda dengan menggunakan sumber ungkapan dan peribahasa Sunda dan peran kondisi alam Tatar Sunda. Konsep keindahan yang dipahami masyarakat Sunda memiliki hubungan timbal-balik antara alam dan rekaan. Ungkapan ”siga lukisan” menunjuk pada objek alam yang indah, dan sebaliknya, bila ada lukisan dengan objek dari alam yang bagus maka ungkapannya menjadi ”siga enya” atau indah seperti kenyataan. Siga menunjuk pada proses penciptaan dengan cara peniruan terhadap objek alam. Siga juga merupakan cara menilai dalam apresiasi karya seni.. Karya seni atau rekaan hanya mengandung pengertian “seperti” atau “menyerupai” objek yang ditiru.

Bahasa Sunda memiliki istilah untuk menilai kualitas keindahan hasil persepsi yaitu waas. Istilah waas sebangaun dengan apa yang dalam seni rupa disebut pengalaman estetik (aesthetic experience), yaitu pengalaman pengamat mencerap objek estetik. Makna waas menunjukkan bahwa pengalaman estetik yang terkandung di dalamnya tidak semata berupa pengalaman atas hal-hal yang indah di alam tetapi juga berbagai hal lainnya yang mampu menggugah perhatian indera, menggerakkan hati, memperkaya batin dan menggetarkan jiwa. Dengan kata lain, waas tidak hanya terjadi dalam mengapresiasi karya seni yang indah tetapi juga peristiwa sehari-hari yang berkualitas sehingga memberi pengalaman estetik atau mampu membuat seseorang merasa waas.

Di dalam seni rupa, desain, arsitektur dan matematika terdapat bentuk dasar yaitu segi empat, segitiga dan lingkaran. Ketiga bentuk dasar tersebut ditemukan dalam ungkapan dan peribahasa Sunda. Bentuk persegi atau bujursangkar terdapat dalam hirup kudu masagi, bentuk segitiga terdapat di dalam bale nyungcung dan lingkaran terdapat pada niat kudu buleud. Makna ketiga ungkapan tersebut adalah kesempurnaan. Persegi simbol kesempurnaan perilaku, segitiga kesempurnaan tempat dan lingkaran simbol keimanan.

Dengan melihat contoh dalam ungkapan dan peribahasa di atas tampak bahwa dalam budaya Sunda, estetika tidak berdiri sendiri tetapi erat kaitannya dengan etika. Estetika berfungsi sebagai ”wadah” dan etika sebagai ”isi” atau pesan moral yang disampaikan. Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa kebudayaan Sunda mempunyai konsep dasar yang erat hubungannya dengan estetika dan setara dengan teori estetika yang ada.

Dibuat oleh : Jamaludin (jamal@itenas.ac.id)
Keyword : Estetika, Sunda, waas, siga, sarupaning, persegi, lingkaran, segitiga
Keterangan : Dipresentasikan pada International Seminar on Reforming and Transforming Sundanese Culture, Faculty of Letters Universitas Padjadjaran Jatinangor, 9-10 Januari 2011.

 

Konsep Estetika Dalam Budaya Rupa Sunda Sebuah Kajian Awal

Categories

Itenas Library News

Selamat datang mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional Angkatan 2014/2015 di kampus Itenas, UPT Perpustakaan Institut Teknologi Nasional siap [...]
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 69.
Kami seluruh staf UPT Perpustakaan Institut Teknologi Nasional Bandung mengucapkan selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan bathin.
Paduan Suara Institut Teknologi Nasional / Itenas Bandung,  Jinggaswara meraih penghargaan GOLD Medal dari 2 kategori, yaitu Kategori  Folksong [...]
UPT Perpustakaan Institut Teknologi Nasional telah membuka Chinese Corner yang ditempatkan di lantai 2 gedung perpustakaan (Gedung 9). Koleksi [...]